Breaking

Kamis, 11 Oktober 2018

Saat Presiden Melafalkan Alfatihah

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam pembukaan MTQ, menyebut dua kali Al-Fatihah. Pelafalan pertama 'Al-Fatihah', namun pada pelafalan kedua berubah menjadi 'Al-Fatekah'. Ucapan 'Al-Fatekah' ini spontan memicu sorak sorai warga yang hadir untuk meluruskan.





 Politikus Golkar, Nusroh Wahid, menilai pelafalan itu wajar karena dipengaruhi oleh gaya bahasa Jokowi yang berasal dari Jawa.

 "Saya mengajak bersama-sama, marilah kita mengirimkan Al-Fatihah untuk korban bencana alam dan para keluarga yang selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan," ujar Jokowi dalam sambutannya. “Ala hadiniyah Al-Fatihah,” kata Presiden Jokowi
Dengan aksen khas Jawanya sehingga terucap 'Al-Fatekah'.

Sebagian warganet di media sosial seketika diributkan oleh pro-kontra ‘Al-Fatekah’ Jokowi tersebut. Banyak yang menulis kalimat sarkasme, juga ada yang mencaci secara terang-terangan.
Bahkan ada yang menilai bahwa Jokowi sudah melecehkan Al-Qur’an.

Terkait polemik ini, Pakar Linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta Fariz Alniezar mengatakan, dalam kajian kebahasaan (linguistik) fenomena seperti itu biasa terjadi.

 “Tidak ada persoalan serius. Pada prinsipnya apa yang terjadi (Al-Fatekah Jokowi) bukan merupakan kesalahan yang patut dipermasalahkan,” .

 "Alkamdulillahi rabbil alamin, alhamdulillah.

Ya Owoh, kadang-kadang orang Jawa bilang begitu. La kaulawala kuwata illabillahilaliyil ngazim, orang Jawa kayak gitu hal biasa. Enggak usah dipersoalkan," ucap Nusron di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/10).

Menurutnya, pelafalan yang harus benar atau fasih itu hanya dalam salat. Baik dalam bacaan di setiap gerakan salat, atau bacaan Al-Fatihah dan surat-surat Al-Quran.
"Alhamdulillahirabbilalamin, itu harus jelas," kata Nusron.

 Menurut Pimpinan Komunitas Literasi Omah Aksoro ini, menyalahkan apalagi mencaci perkara demikian merupakan tindakan seseorang atau kelompok yang gemar memproduksi keributan dan masalah.

 “Memperdebatkan apalagi menyalahkan dan mencaci hal yang demikian itu adalah tindakan yang lewah,” tandas penulis buku Problem Bahasa Kita ini.

 Budayakan santun bersikap dan selalu mengambil Hikmah dan Pembelajaran dalam meniti ke IMANAN

nara sumber;
http://www.nu.or.id/post/read/97048/polemik-al-fatekah-jokowi-menurut-pakar-linguistik

https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/tanggapan-mui-soal-jokowi-lafalkan-al-fatihah-jadi-al-fatekah/ar-BBOaDHk?li=AAuZNMP

Now Playing - 21cineplex.com

Sekilas

Sepekan